Sabtu, 17 Maret 2012

PENGGUNAAN METAFORA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA


I. Alhaddad
Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Khairun Ternate
e-mail: Idrus_ekal@yahoo.co.id



ABSTRAK

Belajar matematika masih merupakan hal yang sulit bagi siswa, karena disamping memiliki objek kajian yang abstrak, juga berdasarkan pada pola pikir yang deduktif. Untuk membantu siswa dapat memahami bahkan menjadi senang dalam belajar matematika, hal ini tidak terlepas dari peranan guru. Bagi guru, memahami matematika juga merupakan hal yang sulit, dan lebih sulit lagi adalah mengajarkan kepada siswa untuk dapat dipahami. Karena hal itu membutuhkan strategi, metode, dan pendekatan.
Dalam pembelajaran matematika banyak hal yang harus diperhatikan. Di antaranya adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar siswa yaitu: pengalaman, kemampan, kematangan, dan motivasi siswa. Oleh karena itu, baik teori maupun metode dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi siswa.
Agar pembelajaran matematis menjadi bermakna dan dimaknai siswa, maka diperlukan cara-cara khusus untuk menjadikan siswa termotivasi belajar matematika. Salah satunya adalah penggunaan Metafora. Metafora dapat dipandang sebagai suatu strategi untuk membantu siswa dalam memahami matematika.
Makalah ini akan menyajikan tentang apa sebenarnya metafofa, bagaimana menggunakannya dalam pembelajaran dan contoh penggunaannya serta kelebihan dalam menggunakan metafora

Kata kunci : Pembelajaran Matematika, Metafora

1.    Pengantar
Apakah matematika itu? sampai saat ini belum ada definisi yang menjadi kesepakatan dari para matematikawan tentang definisi matematika. Para matematikawan saling berbeda dalam mendefinisikan matematika, tergantung pada sudut pandangnya tentang matematika, ada yang  melihat matematika dari sudut pandang bilangan dan operasinya, ada pula yang melihatnya dari struktur-struktur, dan ada juga yang memandang dari sistematikanya, dan dari berbagai sudut pandang lainnya.
Herman Hudojo (1988:3) menyatakan bahwa matematika berkenaan dengan ide-ide/ konsep- konsep yang abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif.
Ruseffendi (2006: 261) menyatakan,
Matematika terdiri dari 4 wawasan yang luas ialah aritmetika, aljabar, geometri dan analisis. Di mana dalam aritmatika mencakup antara lain: teori bilangan dan statistika. Selain itu matematika adalah ratunya ilmu (Mathematics is the Queen of the sciences), maksudnya antara lain matematika tidak bergantung kepada bidang studi lain; bahasa, dan agar dapat dipahami orang dengan tepat kita harus menggunakan simbol dan istilah yang cermat yang disepakati secara bersama; ilmu deduktif yang tidak menerima generalisasi yang didasarkan kepada observasi (induktif) tetapi generalisasi yang didasarkan kepada pembuktian secara deduktif; ilmu tentang pola keteraturan; ilmu tentang struktur yang terorganisasi mulai dari unsur yang tidak didefinisikan, ke unsur yang didefinisikan ke aksioma atau postulat dan akhirnya ke dalil, dan matematika adalah pelayan ilmu.

    Meskipun terdapat beraneka ragam definisi matematika, namun jika diperhatikan secara seksama, dapat terlihat adanya ciri-ciri khusus yang dapat merangkum pengertian matematika secara umum. Soedjadi (2000:13) mengemukakan beberapa ciri khusus dari matematika adalah:
1.    memiliki objek kajian abstrak,
2.    bertumpu pada kesepakatan,
3.    berpola berpikir deduktif,
4.    memiliki simbol yang kosong dari arti,
5.    memperhatikan semesta pembicaraan,
6.    konsisten dalam sistemnya.

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dapat dikatakan bahwa hakikat matematika adalah kumpulan ide-ide yang bersifat abstrak, struktur-struktur dan hubungannya diatur menurut aturan logis dan berdasarkan pada pola pikir deduktif.
2. Pembelajaran Matematika
Belajar matematika menurut sebagian besar siswa sangat sulit, matematika bahkan dianggap momok bagi siswa. Hal ini tidak terlepas dari peranan guru. Bagi guru, memahami matematika juga merupakan hal yang cukup rumit, dan lebih rumit lagi adalah mengajarkan kepada siswa untuk dapat dipahami. Karena hal itu membutuhkan strategi, metode, pendekatan. Dalam pembelajaran matematika banyak hal yang harus diperhatikan. Di antaranya adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar siswa yaitu: pengalaman, kemampan, kematangan, dan motivasi siswa. Oleh karena itu, baik teori maupun metode dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi siswa yang bersangkutan.
Dalam melaksanakan pembelajaran matematika di kelas ada beberapa kiat yang bisa dilakukan menurut Holil (2007), di antaranya adalah:
1. Mulailah dari apa yang diketahui anak, bukan dari apa yang diketahui guru.
2. Sajikan matematika dalam suasana menyenangkan.
3. Beri siswa kesempatan sebanyak-banyaknya untuk berbicara, bekerja, dan menulis mengenai matematika.
4. Gunakan bahasa yang biasa (familiar bagi anak) sebagai strategi awal.
5. Padukan matematika dengan pelajaran lain.
6. Manfaatkan rekayasa teknologi (kalkulator dan komputer).
7. Gunakan media pembelajaran yang mudah diperoleh dan menarik.
8. Biasakan menyelesaikan suatu permasalahan dengan pendekatan problem solving.
9. Biasakan siswa untuk aktif bekerjasama dalam kelompok (cooperative learning)

Ada lima kompetensi matematis yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran matematis menurut (Klipatrick dan Findell dalam Herman, 2006) yaitu:
1.    Conceptual Understanding (pemahaman konsep), yaitu pemahaman konsep, operasi dan relasi dalam matematika.
2.    Procedural Fluency(kelancaran prosedural), yakni keterampilan menyelesaikan masalah prosedural secara fleksibel, akurat dan efisien.
3.    Strategic Competence (kompetensi strategis), yaitu kemampuan untuk memformulasikan, mempresentasikan, serta menyelesaikan masalah matematik.
4.    Adaptive Reasoning (Penalaran adaptif), yakni kapasitas untuk berpikir secara logis, reflektif, eksplanatif dan jastifikatif.
5.    Productive Disposition (sikap produktif), yakni tumbuhnya sikap positif serta kebiasaan melihat matematika sebagai sesuatu yang logis, berguna dan berfaedah.
Agar pembelajaran matematis menjadi bermakna dan dimaknai siswa, maka diperlukan cara-cara khusus untuk menjadikan siswa termotivasi belajar matematika. Berkaitan dengan hal ini, (Sapa’at, 2007) menyatakan bahwa, “Beberapa cara dapat digunakan untuk membuat siswa menjadi termotivasi belajar matematika dan memiliki sikap menghargai keilmuan matematika itu sendiri, salah satunya adalah penggunaan Metafora di awal, di tengah dan di akhir kegiatan pembelajaran.”
3. Pengertian Metafora
Metafora merupakan pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan, kiasan, atau perumpamaan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Misalnya “tulang punggung” dalam kalimat pemuda adalah “tulang punggung” negara.
Metafora juga merupakan kegiatan memaparkan cerita tentang hakikat kesuksesan, perumpamaan-perumpamaan mengenai suatu bentuk kehidupan yang akan mereka hadapi kelak, simulasi, ataupun kisah-kisah berbagai orang sukses dalam hidupnya, serta legenda-legenda lainnya. Melalui penggunaan Metafora dalam kegiatan pembelajaran, diharapkan siswa memiliki wawasan yang lebih tentang kehidupan nyata yang akan mereka hadapi sehingga motivasi mereka dalam belajar dapat ditingkatkan.
Selanjutnya, Waluyo (2008) menyatakan bahwa Metafora adalah salah satu alternatif solusi pembelajaran matematika untuk meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam belajar matematika, sehingga diharapkan pemaknaan siswa terhadap proses pembelajaran matematika terjadi dengan lebih baik. Ini didukung oleh pendapat beberapa ahli yang telah lama berkecimpung dalam penelitian tentang kinerja otak, di antaranya,
1.    De Porter, (2000:14) menyatakan bahwa penyajian materi dengan Metafora dalam pembelajaran memiliki peranan penting untuk meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa, karena penyajian Metafora akan membawa siswa ke dalam suasana yang penuh kegembiraan dan keharuan. Kondisi ini menciptakan pemaknaan dalam proses belajar selanjutnya.
2.    Menurut Lakoff and Núñez (2000), metaphors generate a conceptual relationship between a source domain and a target domain by mapping and preserving inferences from the source to the target domain. Because metaphors link different senses, they are essential for people in building meanings for mathematical entities "…a large number of the most basic, as well as the most sophisticated, mathematical ideas are metaphorical in nature"
3.    Howard and Gardner (dalam De Porter, 2000:23) menyatakan bahwa seseorang akan belajar dengan segenap kemampuan apabila dia menyukai apa yang dia pelajari dan dia akan merasa senang terlibat di dalamnya.
4.    Clark (2007) menemukan bahwa, “that stories and literature are particularly rich stimulus to promote mathematical discussion, and when students were asked to provide written reflection about a range of mathematical concepts that were made more accessible and memorable as a result of reading stories.”
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan Metafora dalam pembelajaran akan memberikan pengaruh positif terhadap motivasi dan aktivitas belajar siswa serta dapat menciptakan pemaknaan dalam proses belajar selanjutnya.
Bentuk-bentuk metafora yang dapat digunakan atau disampaikan dalam setiap pembelajaran sangat banyak sekali seperti yang diungkapkan oleh (Suherman dalam Sapa’at, 2007), di antaranya yaitu: (1) bercerita dengan menggunakan perumpamaan untuk menumbuhkan kesadaran betapa pentingnya pembelajaran tersebut, (2) bercerita dengan perumpamaan, bahwa yang bertanggungjawab terhadap pendidikan pada hakikatnya adalah diri sendiri, (3) memberikan penjelasan bagaimana kiat meraih sukses dalam pembelajaran dan kehidupan, (4) menyajikan paparan bahwa orang belajar harus siap keluar dari zona nyaman, (5) mendiskusikan mengapa hingga saat ini kualitas pendidikan Indonesia masih terpuruk, (6) mengisahkan tentang beberapa tokoh terkenal seperti Albert Einstein, J.K. Rowling, Syeikh Ahmad Yassin, Jacky Chan, David Bechkam, Michael Jordan, Thomas Alfa Edison, Jalaludin Rumi, Umar Khayyam, dan Sebagainya, atau (7) memberikan beberapa nasihat dan tips-tips untuk meraih keberhasilan. Pada pembelajaran geometri, tahap-tahap belajar anak dalam belajar geometri pada teorema Van Hiele yang meliputi tahap pengenalan (visualisasi),analisis, pengurutan, deduksi dan akurasi
Ada tiga kategori dari metafora, yaitu:
1.    Intangible metaphor (metafora yang tidak diraba), yang termasuk kategori ini misalnya suatu konsep, suatu idea, kondisi manusia atau kualitas-kualitas khusus (individual, naturalistis, komunitas, tradisi dan budaya).
2.     Tangible Metaphor (metafora yang dapat diraba), dapat dirasakan dari suatu karakter visual atau material. 
3.     Combined Metaphors (penggabungan antara keduanya), di mana secara konsep dan visual saling mengisi sebagai unsur-unsur awal dan visualisasi.
Dari ungkapan-ungkapan yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa metafora adalah suatu bentuk penggunaan kata atau kalimat yang bertujuan untuk mewakili suatu konsep tertentu. Metafora digunakan untuk memahami sesuatu yang abstrak menjadi konkrit atau juga sebaliknya.

4. Contoh Penggunaan Metafora dalam Pembelajaran Matematika
Pembentukkan suasana yang kondusif untuk mengajarkan matematika kepada siswa, adalah dengan merencanakan aktivitas pembelajaran yang baik, memberikan penghargaan pada setiap respons yang disampaikan oleh siswa, dan bersikap fleksibel terhadap jawaban atau pendapat siswa. Di samping itu, pengajar juga perlu membebaskan siswa dari ancaman dan ketertekanan yang dirasakannya ketika mencoba mengajukan pendapatnya. Penyajian materi pembelajaran dengan menggunakan metafora dapat dilakukan di awal sebagai apersepsi, pertengahan, ataupun di akhir pembelajaran. Di awal pembelajaran metafora yang diberikan adalah sebagai berikut:
a. Memacu motivasi siswa untuk lebih memaknai hakikat belajar, mengembangkan kesadaran siswa untuk dapat berbuat yang terbaik dan meraih kesuksesan dalam pembelajaran matematika secara khusus, maupun dalam kehidupan yang mereka jalani secara umum.
b. Pengajar memberikan informasi tentang pengertian dan pentingnya pembelajaran matematika yang akan dilaksanakan.
c. Pengajar menjelaskan pula mengenai strategi pembelajaran matematika yang berupa pemahaman mandiri melalui serangkaian pertanyaan pemahaman, pertanyaan skematis yang berguna untuk menjembatani siswa kepada konsep yang baru. Melalui pertanyaan strategi dan refleksi, siswa di arahkan untuk menyelesaikan permasalahan berupa soal-soal latihan.
Selain itu pemberian cerita para matematikawan pada saat apersepsi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Dan lebih efektif jika diberikan secara rutin. Brown, Eade dan Wilson (1999) mengungkapkan gagasan bagaimana menyelesaikan penjumlahan seperti 7+? = 23. Persamaan ini diubah menjadi 7+x =23. Pemisalan x dalam persamaan ini merupakan bentuk metafora (metaphorical substitution). Selain itu, penyelesaian persamaan dapat dilakukan dengan mengubahnya ke dalam model geometri. Sedangkan Danesi (2007) mengaplikasi metafora untuk mengongketkan suatu permasalahan matematis yang abstrak. Suatu permasalahan dijelaskan dengan bahasa yang sederhana serta menggunakan tehnik diagram dengan tujuan siswa dapat melihat secara langsung, sehingga siswa dapat menyelesaikannya dengan mudah dan dapat menyelesaikan permasalahan berikutnya dengan lebih baik. Misalnya pada permasalahan sistem.
Selanjutnya Bolite frant, et al. (2006) dalam penelitiannya tentang metafora dalam kelas matematika: menganalisis proses pembelajaran yang dinamis pada grafik fungsi, menemukan bahwa penggunaan beberapa metafora (orientasi, gerak fiktif, ontologi, dan campuran metafora) muncul dalam percakapan guru dan siswa. Patrick Bahls (2009) melakukan penelitian tentang methafora yaitu penggunaan puisi dalam mengajarkan matematika pada pokok bahasan grafik fungsi trigonometri.
Di akhir pembelajaran metafora dapat digunakan sebagai proses menyimpulkan. Apa yang kalian pelajari hari ini? Apa pula yang telah kalian pelajari tentang diri kalian sendiri dalam menyelesaikan permasalahan yang ada? Adakah rencana ke depan untuk senantiasa memperbaiki kualitas diri? Bagaimana cara kalian mewujudkan upaya tersebut?”
5. Kelebihan Penggunaan Metafora dalam Pembelajaran Matematika
Tidak ada satupun metode, model atau strategi yang sempurna sehingga dapat dipakai untuk semua pembelajaran. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dari penggunaan metafora dalam pembelajaran matematika antara lain sebagai berikut:
1. Pemberian metafora dapat dilakukan di setiap bagian ketika proses pembelajaran berlangsung. Diharapkan siswa tidak merasa bosan dan lebih rileks dalam mengikuti pembelajaran.
2. Metafora-metafora yang dapat diberikan sangat bervariasi sehingga pengajar dapat menyesuaikan metafora yang cocok dengan materi pembelajaran secara leluasa.
3. Metafora dapat dijadikan sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan moral yang terkandung di dalam konsep-konsep matematis atau nilai-nilai kehidupan.
4. Dengan metafora, siswa diberi kesempatan yang luas untuk memikirkan dan merenungkan segala sesuatu yang ada disekitarnya. Di sini siswa diajak untuk mengonstruksi konsep matematis dari apa yang dilihat, dikerjakan, dan kemudian didiskusikan.
5. Pemberian metafora dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA

DePorter, Bobbi; Reardon, Mark; dan Nourie, Sarah Singer. (2000). Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Bandung: Kaifa.

Bolite Frant, J.; Acevedo, J.I.; Font, V. (2006). metaphors in mathematics classrooms: analyzing the dynamic process of teaching and learning of graph functions. Actas del CERME 4 (pp. 82-91)

Brown, T.,Eade, F. and Wilson, D. (1999). “Semantic Innovation: Arithmetical and Algebraic Metaphors Within Narratives of Learning”. Educational Studies in Mathematics. 40, 53-70.

Danesi, M. (2007). “A Conceptual Metaphor Framework for the Teaching of Mathematics”. Studi Philos Educ 26, 225-236.

Herman, T. (2006). Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Matematis Tingkat Tinggi Siswa SMP. Disertasi Doktor SPS UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Holil, Anwar. (2007) Model Pembelajaran Kooperatif. http://www.blogger.com/feeds/posts/

Hudojo Herman. (1988). Mengajar Belajar Matematika. Jakarta: Departemen Pendidakan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan LPTK.
Lakoff, G. & Núñez, R. (2000). Where mathematics comes from: How the embodied mind brings mathematics into being. New York: Basic Books.

Maksum. (2003). “Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Melalui Cerita Para Matematikawan”. Jurnal Pendidikan Mipa. 3, (1), 33-37.

Maulana. (2008). Penggunaan Metafora dalam Perkuliahan Matematika. http://hidup-penuh-perjuangan.blogspot.com. [22 Desember 2010]

Ruseffendi, E.T. (2006). Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.

Sapa’at, A. (2007). ”Penggunaan Metafora dalam Pembelajaran Matematika”. Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika (ALGORITMA). http://www.lpi-dd.net/web/download/

Soejadi. (2000). Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta: Direktoran Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Wenger, W. (2004). Beyond Teaching & Learning Memadukan Quantum Teaching & Learning. Bandung: Nuansa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar